Nasi Goreng, Menu Sarapan Nasional: Sejarah & Resep ala Abang-Abang

Categories SarapanPosted on
nasi goreng

Besar dugaan saya, nasi goreng adalah menu yang cukup sering dimasak untuk sarapan di rumah-rumah Indonesia. Keluarga saya juga kadang sarapan nasi goreng karena praktis, mudah dan cepat dibuat. Bahannya juga gampang bisa memakai nasi sisa kemarin, bahan untuk bumbunya pun hampir setiap saat tersedia di dapur.

Nasi goreng mempunyai dua ‘waktu tayang’ utama, di pagi dan malam hari. Jika di pagi hari ia banyak dijumpai di rumah-rumah, di malam hari dengan gampang nasi goreng kita temukan dijual di mana-mana.

Ada 4 kelompok besar nasi goreng Indonesia paling populer yang saya tahu. Mereka dibedakan berdasarkan gaya bumbunya yaitu versi rumahan, ala Tiongkok, ala Jawa, dan ala abang-abang. Saya pernah mencoba semuanya dan semua sama enaknya dengan ciri khasnya masing-masing.

Nasi goreng mudah dijumpai di penjuru Indonesia. Tapi dari manakah asal masakan ini, apakah ia asli masakan Indonesia?

Banyak negara yang mempunyai nasi goreng sebagai bagian dari masakan khas negara mereka. Selain Indonesia di antaranya adalah Tiongkok, India, Jepang, Portugis, Myanmar, dan Korea.

Kita tahu, Indonesia sejak dahulu banyak berinteraksi dengan berbagai negara. Kuliner kita pun terpengaruh pula karenanya. Semakin kaya dengan pengaruh-pengaruh dari Arab, Tiongkok, dan Eropa.

Saya sendiri menduga nasi goreng kita berasal dari kuliner Tionghoa. Benarkah?

Sejarah Nasi Goreng

Ada beberapa data yang membuat saya meyakini nasi goreng berasal dari Tionghoa. Pertama, nasi goreng Tionghoa adalah masakan kuno yang terwujud sebagai cara untuk memanfaatkan makanan sisa. Konon masakan ini tercipta di jaman dinasti Sui (589-618 M)[1].

Kedua, menumis (fan chao/stir fry) adalah salah satu teknik dari sekian banyak teknik memasak orang Tionghoa. Bahan makanan dimasak menggunakan sedikit minyak goreng dan api besar, diaduk dengan cepat dan berulang-ulang.

Teknik menumis ini dibawa oleh para perantau Tionghoa ke Nusantara. Kuliner Nusantara sendiri sebelumnya tidak mengenal masakan yang ditumis[2].

Selain itu para perantau Tionghoa juga memperkenalkan teknik khusus chao (menggoreng dengan cepat/pan fry). Makanan digoreng dengan cepat menggunakan sedikit minyak goreng. Teknik inilah yang kita pakai untuk memasak nasi goreng dan mi goreng[3].

Ketiga, kecap manis adalah salah satu bahan yang sering digunakan untuk memasak nasi goreng di Indonesia. Kecap sudah dikenal di Tiongkok sejak abad 2 SM sebagai pengganti garam karena garam saat itu sangat berharga. Dipercaya kecap dibawa masuk ke Nusantara oleh para perantau Tionghoa jauh sebelum tahun 1700an[4].

Jadi saya yakin nasi goreng adalah satu diantara banyak masakan yang diperkenalkan oleh perantau Tionghoa pada penduduk Nusantara.

Membahas nasi goreng tentu kurang lengkap jika tidak membahas juga resepnya. Saya akan membagikan resep yang menarik, yaitu:

Resep Nasi Goreng ala Abang-Abang yang Lezat

Penasarankah kamu dengan resep nasi goreng yang dijual oleh abang-abang kaki lima? Kok mereka nasi gorengnya enak ya, lebih enak dibanding jika kita membuat sendiri.

Saya mengandalkan lidah dan penciuman pernah merekonstruksi resep ala abang-abang itu. Hasilnya saya gagal.

Beberapa waktu lalu saya melihat di YouTube, seorang penjual nasi goreng berbagi rahasia resepnya. Saya sudah minta ijin memasukkan videonya di tulisan ini, simak yuk resepnya apa saja bahannya dan bagaimana cara memasak nasi gorengnya.

Di channel-nya team HOREE!! kamu juga bisa belajar cara membuat acar, memilih beras yang tepat untuk nasi goreng, memasak nasi pera yang cocok untuk nasi goreng, memasak mi, memasak kwetiauw, dll.

Kalau kamu punya resep nasi goreng andalan yang lezat, bagikan di komentar ya. Kalau cukup banyak resep yang terkumpul nanti akan saya buat tulisan tersendiri kumpulan resep nasi goreng. Tentunya saya juga akan mencantumkan link blog kamu.

Catatan kaki:

  1. https://ifood.tv/chinese/chinese-fried-rice/about diakses 6 November 2018.
  2. Buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara, hal. 6.
  3. Buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara, hal. 9.
  4. Buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara, hal. 43-44.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *